Saya mengenal dan mempelajari Islam lebih dalam melalui mentoring di bangku SMA. Kakak mentor yang baik mengenalkan tentang makna syahadatain kepada saya. Dari sekian banyak kakak mentor, ada dua orang yang paling membuat saya terkesan. Keduanya lulusan FISIP UI, yang satu sekarang di Karawang, yang satu lagi di Subang (kabar terakhir beliau sudah kembali ke Depok)
Dalam suatu kesempatan setelah saya lulus kuliah, secara tak sengaja saya berjumpa dengan Abang dari Karawang ini. Sempat berbicang dengan beliau, saya pun bertanya kemana sebaiknya saya melanjutkan kuliah.
Jawaban yang saya dapatkan sungguh luar biasa, “Akhi, saat ini buat antum bukan lagi ngomongin akan jadi apa, mau kuliah di mana. Bukan itu akhi.. tapi antum harus berpikir, nanti antum mau meninggalnya kayak gimana.”
Seorang muslim sejati akan memandang kehidupan di dunia ini sebagai perjalanan menuju kehidupan akhirat. Ia tidak akan menyibukkan dirinya dengan tujuan-tujuan hidup jangka pendek (dunia), tapi memanfaatkan dunia ini untuk kehidupannya di akhirat kelak.
Merencanakan kehidupan seperti apa yang akan dijalani, berarti meniatkan untuk siapa hidupnya dipersembahkan. “Katakanlah : Sungguh sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Robb semesta alam.”
Kehidupan ini dibatasi oleh kematian, Kematian adalah kepastian bagi makhluk yang bernyawa. Sedikit waktu yang diberikan sudah selayaknya digunakan semaksimal mungkin dalam kebaikan. Kematian memang tidak perlu ditunggu, namun kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut kedatangannya yang tiba-tiba.
Dalam hidup ini begitu banyak orang yang menghabiskan usianya hanya untuk mengejar yang tidak abadi. Ada yang menggadaikan imannya dengan beberapa kardus mi instant, ada yang mengakhiri hidupnya lantaran putus cinta dengan kekasihnya, ada yang membunuh anaknya karena kesulitan keuangan, ada yang stress karena tidak dapat jabatan. Mereka menyia-nyiakan hidupnya untuk sesuatu yang tidak berharga.
Seseorang pernah berkata bahwa orang-orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membuat daftar belanja daripada menetapkan sasaran hidupnya. Dan lebih sedikit lagi yang sasaran hidupnya untuk dunia dan akhirat
Ada sebuah kalimat yang bagus tentang hidup, “Hidup bukanlah bilangan usia, tapi bilangan prestasi.” Menjadi apapun dalam hidup ini adalah pilihan, tapi menjadi bernilai bagi seorang muslim adalah suatu keharusan. Semakin lama bilangan usianya, semakin banyak pula prestasi yang ia torehkan dalam hidupnya. “Jadilah kalian orang-orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.”
Perhatikanlah bagaimana Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah, “Katakanlah wahai Rasul, ya Robbi tambahkanlah untukku ilmu..”
Seseorang berkata, “Hari yang paling menyedihkan adalah hari dimana matahari terbenam, sedangkan tidak ada tambahan ilmu dan amalku.”
Manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bertaqwa kepada Allah. Taqwa adalah sebuah hasil pembinaan diri dengan segala macam ibadah. Setiap ibadah yang dilakukan harus berdasarkan pada ilmu. Dan ilmu diperoleh dari belajar sedikit demi sedikit.
Kalau kata orang barat, “Knowing is nothing, applied knowing is everything.” Hanya mengetahui tidak lantas menaikkan derajat kita, tapi mengamalkan apa yang kita ketahui yang dapat mengangkatnya.
Mencari ilmu bukanlah mencari gelar sarjana, magister, doctor atau professor. Mencari ilmu berarti mampu menangkap hikmah dari setiap kejadian, yang dengan hikmah itu ia semakin dekat dan takut kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu (ulamaa) dari hamba-hamba Nya. Ilmu yang jika dipelajari tidak menambah ketakutan kita pada Allah, maka ia bukanlah ilmu.
Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, beda orang beda pemikiran dan keahliannya. Setiap orang itu memiliki keunikan tersendiri, para sahabat nabi juga demikian. Ada Abu Bakar yang lembut hatinya, Umar yang tegas, Utsman yang pemalu atau Ali yang cerdas.
Kita semua memiliki karakter dan potensi yang berbeda, tugas kita adalah menemukan potensi itu dan mengembangkannya. Sehingga nanti ketika kita meninggalkan dunia ini, kita tidak akan menyesali kenapa dulu tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan pada kita.
Baca juga artikel dibawah ini:- Jangan Sampai Jadi Orang yang Rugi
- Menjadi Manusia Pembelajar Seumur Hidup
- Ngeblog dapat Pahala
- Tujuh Kiat Tilawah Satu Juz Sehari
- Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca Al Quran secara Tartil

December 18th, 2009
Rama
Posted in
Tags: 
baca ini jadi semangat.. /
Sungguh sebuah tulisan yang menggugah semangat iman
saya setuju Hidup bukanlah bilangan usia, tapi bilangan prestasi
makasih sob … jadi dapet inspirasi nih
Suka sama kalimat hidup bukanlah bilangan usia tapi bilangan prestasi